Musik bagi perkembangan gigi dan rahang
Telah diyakini sejak lama bahwa musik klasik memberi pengaruh positif terhadap pertumbuhan dan kecerdasan, bahkan saat bayi masih dalam kandungan. Menurut para ahli di Amerika, musik yang baik dapat merangsang perkembangan anak. Beberapa rumah sakit menganjurkan ibu yang sedang hamil untuk memperdengarkan musik klasik bagi bayi yang sedang dikandungnya.
Penelitian yang dilakukan baru-baru ini oleh drg. Ria Puspitawati, staf Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, juga menunjukkan bahwa musik dapat mengoptimalkan pertumbuhan (dalam hal ini jaringan keras gigi dan tulang rahang), meski masih terbatas pada percobaan pada hewan di laboratorium.
Dalam penelitiannya yang dipresentasikan pada sidang Ujian Terbuka untuk meraih gelar Doktor di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Kamis (31/7) yang lalu, drg. Ria menggunakan tikus hamil yang diberi asupan protein normal dan rendah. Masing-masing dibagi lagi dalam dua kelompok yaitu dengan iringan musik pada jam-jam tertentu dan tanpa iringan musik. Iringan musik ini setiap hari diberikan hingga anak tikus lahir dan berusia 5 minggu.
Lagu klasik yang diperdengarkan adalah beberapa lagu karya Mozart dan karya komponis lain dari zaman Barok dan Romantik seperti Vivaldi, Bach dan Strauss. Selain itu juga digunakan lagu karya Brahms dan Debussy. Lagu klasik ini diputar dua kali yaitu pada pagi hari dan sebagai pengantar tidur di sore hari.
Ternyata lagu klasik memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan tikus. Peningkatan berat dan panjang badan anak tikus yang diberi iringan musik terlihat nyata berbeda dibandingkan dengan anak tikus tanpa paparan musik.
Selain itu, anak tikus dengan gizi normal yang diberikan iringan musik menunjukkan pertumbuhan gigi dan tulang rahang yang lebih baik dan juga lebih berkualitas daripada kelompok tikus tanpa iringan musik. Sama halnya pada kelompok tikus dengan gizi rendah, kualitas dan pertumbuhan gigi dan tulang rahangnya lebih baik bila diberikan iringan musik sebagai pengantar tidur dibandingkan yang tidak.
Drg. Ria menjelaskan “Musik mempengaruhi keadaan psikofisik tubuh melalui alur neuroendokrin yang mekanismenya melibatkan sistem syaraf pusat dan sistem hormon.” Namun beliau menambahkan ternyata ada alur lain, yaitu alur fisik. Musik adalah gelombang suara yang harmonis, dan dapat mempengaruhi getaran benda lain yang dijangkaunya. Gelombang harmonis ini akan beresonansi terhadap gelombang intrinsik yang dimiliki setiap benda, sehingga timbul efek positif berupa terbentuknya vibrasi harmonis.
Setelah melalui sanggahan dan pertanyaan yang diajukan oleh Dewan Penguji yang diketuai oleh Dr. Monty P Satiadarma, MS/AT, Psi dari Fak. Psikologi Universitas Tarumanagara, drg. Ria Puspitawati berhasil meraih gelar Doktor dengan yudisium Cum Laude (IPK 4.0).